Bahkan di dalam penjara, Nazar tetap menjalankan prakteknya mengeruk uang negara dengan "menyandera" beberapa politikus Senayan agar ambisinya menjadi orang terkaya di Indonesia terwujud.
Lahir sebagai keturunan cina, ia menolak mengganti namanya menjadi "Indonesia". Hidupnya diabdikan untuk membela mereka yang hak-haknya dirampas, termasuk penolakannya pada gagasan Presiden Sukarno umtuk kembali ke UUD'45, dikarenakan sedikit memuat tentang HAM.