Text
Mencetak Pembelajar Menjadi Insan Paripurna (Falsafah Pendidikan Islam)
Manusia adalah makhluk misteri dan tak terduga. Saking banyaknya manusia yang penuh keajaiban dan misteri sehingga tidak ada seorang pun yang dapat melukiskannya. AlQur'an pun menyebutkan "ahsan at-taqwim" (sebaik-baik kejadian alias insan paripurna). Membelajarkan manusia yang penuh daya itu tentu harus sejalan dengan maksud-maksud Penciptanya karena Dia Yang Paling Tau jati diri ciptaannya yang disebutkan dalam Al Qur'an dan Sunnah. Untuk itu para teori dan praktisi pendidikan, harus lebih dulu memahami apa kata Al Qur'an dan Sunnah tentang daya-daya ahsan at taqwim tersebut. Dengan pengetahuan tersebut, pembentukan karakter pembelajaran akan sesuai dengan maksud Pencipta fitrah manusia yakni menjadi khilifah dan hamba. Dari sini dapat dipahami betapa ketatnya para ahli pendidikan muslim mensyaratkan kompetisi personal bagi pendidik musli. hal itu tiada lai, agar pendidik dapat mencetak pembelajar menjadi manusia bijak sana dan spiritualitas kalbu yang mumpuni. Karenanya di menjadi manusia yang bertanggung jawab. Paling tidak, pemdidik tidak merusak fitrah suci titipan Tuhan tersebut dalam proses pendidikan.
Mencetak pembelajar Menjadi Insan Paripurna mencoba memaparkan bagaimana problem pendidikan di Indonesia dalam lingkaran globalisasi informasi dan teknologi yang membabat habis spritualitas kalbu pembelajar. Dicari solusinya melalui berbagai pemikiran pendidik muslim dalam pendidikan, dengan memahami dulu siapa jati diri manusia menurut Penciptannya. Salah satu focus perhatian dari daya-daya manusia ialah kalbu(hati). Diyakini, semakin bagus spiritualitas kalbu seseorang, maka semakin bagus pula tanggung jawab keagamaan (teosentris), kemanusiaan (antrosentris) dan ke alamnnya (kosmosentris). Akhirnya jadilah dia menjadi insane paripurna di jagad Wallahu a'lam bishawab
Tidak tersedia versi lain