CD-ROM
Representasi identitas budaya etnis Tionghoa dalam tayangan berita dukacita pada rubrik klasika medi harian Kompas (berita dukacita Hengky Widjaja/Liong Tak Hin Harian Kompas, Tgl.20-07-2010) (CD+Cetak)
Citra kematian di dalam media masa disajikan dalam berbagai bentuk, salah
satunya adalah berita dukacita. Media massa sebagai represenrator budaya menyajikan
simbol-simbol budaya dalam berita. Berita dukacita merupakan transformasi kebudayaan
manusia yang berumur sangat tua. Berita dukacita yang ditayangrkan mealui surat kabar
merupakan salah satu bentuk ekspresi budaya yang sarat dengan politik identitas. Penulis
mengungkapkan bagainana identitas budaya etnik Tionghoa di presentasikan lewat
tayangan berita dukacita melalui Rubrik Klasika Harian Kompas. Berita dukacita disajikan
sebagai upaya untuk meneguhkan posisi bagi segolongan masyarakat berdasarkan identitas
tertentu, yaitu identitas budaya Tionghoa.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana identitas budaya etnik
Tionghoa di representasikan lewat tayangan berita dukacita pada Harian Kompas. Sebagai
cara pemberdayaan masyarakat, agar masyarakat mampu melihat sebuah manfaat ketika
memperoleh informasi dalam media surat kabar. Melalui pemahaman yang tepat terhadap
makna berita dukacita, dapat membukakan mata bahwa kegigihan etnik Tionghoa dalam
memperjuangkan identitasnya menjadi pemacu untuk menghapuskan segala bentuk
diskriminasi rasial. Tidak hanya dalam bentuk pengakuan terhadap berita dukacita di surat
kabar sebagai bagian dari identitas budaya Tionghoa, namun menjadi kesadaran bahwa
sebenarnya media massa adalah ruang untuk semua etnik, bangsa, agama, dan semua
manusia.
Penelitian ini menggunakan paradigma kritis yang bersifat kritis intepretatif,
menekankan pada penulis sendiri untuk menentukan pemaknaan pada berita dukacita.
Berdasarkan permasalahan dan tujuan penelitian, penulis ingin mencari makna yang
terselubung berkenaan dengan identitas budaya etnik Tionghoa yang ditampilkan melalui
tayangan berita dukacita dalam rubrik klasika pada media harian Kompas. Penggunaan
metode semiotik Roland Barthes yang berupa pengumpulan dan penyusunan data, serta
analisis dan penafsiran dari data yang diambil dari berita dukacita Kompas Juli 2010.
Peneliti mengungkap representasi budaya Tionghoa melalui dua tataran analisa, tatanan
pertama yaitu makna denotasi dan tataran kedua makna konotasi dan mitos. Melalui pisau
analisis inilah akan diketahui bagaimanna identitas budaya terjadi dalam berita dukacita
pada Harian Kompas.
Hasil penggunaan pisau analisis dalam pembuktian dan menganalisa tayangan
berita dukacita didapat dari tataran pertama makna denotasi yaitu kolom berita dukacita
yang digunakan sebagai ruang untuk menunjukkan perjalanan sejarah kalangan etnik
Tionghoa dalam mengidikasikan kebudayaannya yang diperlihatkan melalui tulisan dan
nama-nama Tionghoa yang tertulis, kemudian nama tempat yang disebutkan seperti nama
Rumah Sakit, dan nama-nama perusahaan yang disertakan juga merupakan bentuk simbol
status ekonomi keluarga mendiang. Pada tatanan kedua mitos yang dibangun adalah
xvi
bagaimana kebudayaan Tionghoa dalam segala hal diperlihatkan sehingga semua orang
akan mengetahui bahwa masyarakat Tionghoa adalah etnis yang dalam segala aspeknya
sarat dengan unsur budaya dan tidak akan tergoyahkan, sekalipun dalam bingkai ritual
kematian.
Tidak tersedia versi lain