CD-ROM
Self Disclosure Pada Pola Komunikasi Antar Pribadi Dalam Komunitas Lesbian Kota Kupang (CD)
Oleh Johan Ch, Kalalo, NPK 07330091, Program Studi Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Merdeka Malang, Melakukan penelitian dengan judul “Self Disclosure Pada Pola Komunikasi Antarpribadi Dalam Komunitas Lesbian Kota Kupang”, pembimbing 1 Drs. Dodot Sapto Adi, M.Si, dan pembimbing 2 Saudah, S.Sos, M.Si.
Yang melatarbelakangi penelitian ini adalah ketertarikan daripada peneliti untuk lebih jauh mengenal kehidupan kaum Lesbian yang kemunculannya menjadi suatu fenomena di tengah masyarakat yang masih memegang teguh adat ketimuran dan heteronormativity yang memandang tabu pola pikir dan tatanan seksual yang dianut kaum lesbian.
Sebagai makhluk sosial kaum lesbian butuh untuk berinteraksi dengan orang lain dalam hal ini adalah individu atau komunitas yang mimiliki kesamaan orientasi seksual, untuk sekedar bergaul, mencari teman bahkan mencari kekasih untuk sekedar berbagi tentang beban hidup dan mencurahkan keluh kesah yang dirasakan.
Tujuan penelitian ini sendiri adalah untuk mencari tahu bagaimana seorang lesbian mengungkapkan diri terhadap komunitas tentang kohomoseksualannya melalui simbol yang digunakan melalui Bahasa verbal dan nonverbal yang digunakan, simbol-simbol, serta konflik yang rentan terjadi dalam komunitas, serta pola komunikasi yang dijalankan kaum lesbian dalam proses pengungkapan diri. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dalam studi fenomenologi yang menggali nilai dalam pengalaman dan kehidupan individu secara sadar dan dalam pendekatan studi komunikasi antarpribadi.
Fakta yang ditemukan dilokasi penelitian menunjukan bahwa dalam proses pengungkapan diri yang dijalankan oleh kaum lesbian tak lepas dari Bahasa tubuh, sikap serta penggunaan atribut seorang pria sebagai penanda seorang lesbian. Komunikasi antarpribadi yang dilakukan kaum lesbian tidak berbeda jauh layaknya kaum heteroseksual pada umumnya mulai dari tahap interaksi awal sampai keputusan, setiap tahap yang dilakukan kaum lesbian tidak terlepas dari interaksi simbolik yang dihasilkan dalam berinteraksi. Konflik yang paling rentan terjadi di dalam komunitas ini adalah mengenai kecemburuan terhadap pasangan pada relasi lesbianisme yang tinggi yang menyebabkan bahkan tak jarang melibatkan ancaman, balas dendam serta permusuhan bahkan kekerasan secara fisik dan verbal pun tak bisa dielakan.
Simbol simbol yang digunakan dalam dunia lesbianisme juga bertujuan untuk mempertegas dan mengaktualisasikan tentang sebuah peran gender yang dijalankan sesuai yang pemahaman yang disepakati didalam komunitas sesuai dengan konsep diri sebagai gambaran yang dimiliki individu terhadap dirinya dalam menjalankan kehidupan sebagai seorang lesbian sesuai dengan peran yang dikonstruksikannya dan orang lain dalam hal ini adalah komunitas pecinta sesama jenis. Ke-pria-an dan ke-wanita-an yang terkonstruksi merupakan sebuah berperilaku sesuai dengan nilai-nilai yang disepakati bersama dalam komunitas lesbian.
Tidak tersedia versi lain