CD-ROM
Mitos Ke-Indonesiaan Dalam Film "Bahwa Cinta itu Ada"
Yang menjadi latar belakang dari penelitian ini adalah ketertarikan peneliti terhadap salah satu bentuk media massa yaitu film yang digunakan sebagai media pengembangan budaya sekaligus sebagai representasi ideologi movie maker karena film merupakan media yang dapat diterima oleh semua kalangan secara universal bahkan dikatakan memiliki hipnotis. Secara kuantitas maupun kualitas, film mengalami pasang surut sampai akhirnya mengalami perkembangan yang signifikan. Selain itu jumlah film dan antusias penonton film di Indonesia cukup besar, terutama untuk film Indonesia. Saat ini, film Indonesia yang bertemakan budaya, Nasionalisme, dan patriotisme sudah banyak menarik animo masyarakat sehingga pada film-film tersebut ditemukan mitos ke-Indonesiaan seperti pada film “Bahwa Cinta Itu Ada”. Film yang mendapatkan penghargaan BIFFest (Bali International Film Festival) 2010 sebagai Best Scenario ini merepresentasikan ke-Indonesiaan dengan konsep yang berbeda yang belum pernah ada.
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui Mitos Ke-Indonesiaan Dalam Film “Bahwa Cinta Itu Ada”, yang dapat bermanfaat akademis dengan memberikan pengetahuan tentang konsep film yang merepresentasikan Mitos Ke-Indonesiaan Dalam Film “Bahwa Cinta Itu Ada” sebagai acuan mahasiswa bidang broadcasting dalam menghasilkan film yang berkualitas. Serta bermanfaat sosial dengan memberikan pengetahuan tentang nilai-nilai Keindonesiaan yang direpresentasikan Dalam Film “Bahwa Cinta Itu Ada” sehingga khalayak dapat ikut serta dalam mengembangkan dan mempertahankan serta mewujudkan nilai-nilai ke-Indonesiaan dalam kehidupan sosial bermasyarakat.
Dalam upaya untuk mengetahui mitos ke-Indonesiaan yang dibangun maka digunakan metode semiotika Roland Barthes yaitu pandangan suatu ilmu sosial yang menempatkan suatu media dalam tindakan sosial sebagai tanda dan makna dalam setiap tayangannya agar menemukan mitos yang dibangun dalam sebuah film melalui teks yang merupakan segala sesuatu yang dapat dimaknai.
Dari hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Industri media termasuk dunia perfilman Indonesia saat ini membutuhkan sesuatu yang baru untuk menghasilkan film-film Indonesia yang berkualitas. Ide kreatif yang berbeda dari film-film lainnya dengan mengangkat tema yang sama yaitu ke-Indonesiaan. Mitos ke-Indonesiaan yang ada di masyarakat perlu disesuaikan dengan perkembangan jaman di era globalisasi ini sehingga dalam Dalam film “Bahwa Cinta Itu Ada " mitos ke-Indonesiaan yang dibangun adalah mitos ke-Indonesiaan modern. Mitos tersebut tidak terlepas dari tujuan pembuatan film tersebut yaitu menjadikan film tersebut sebagai media pengembangan budaya serta representasi ideologi movie maker. Hal ini terjadi karena movie maker sebagai pemegang “kekuasaan” dalam pembuatan jalan cerita menanamkan ideologinya pada film tersebut sehingga dibangun sebuah mitos. Mitos yang dibangun oleh movie maker mengenai ke-Indonesiaan dapat dianalisis menggunakan analisis Semiotika Roland Barthes.
Tidak tersedia versi lain