CD-ROM
Representasi Ketidakadilan Gender Terhadap Perempuan Dalam Film 7 Hati 7 Cinta 7 Wanita (Analisis Semiotika Roland Barthes) (CD+Cetak)
Gender sebagai pembedaan perempuan dan laki-laki berdasarkan konstruksi sosial tercermin dalam kehidupan sosial yang berawal dari keluarga. Persoalan gender sering dikaitkan dengan feminisme karena perempuan dilihat sebagai golongan terpinggirkan dan perlu pembelaan. Feminisme sendiri adalah gerakan perempuan yang menuntut emansipasi atau kesamaan dan keadilan hak dengan laki-laki. Tema-tema keperempuanan masih menjadi tema menarik untuk diangkat dalam layar film Indonesia, karena perempuan Indonesia masih dirundung masalah yang belum jelas ujungnya serta masih menjadi mahkluk nomor dua. Seperti halnya terkuak beberapa permasalahan perempuan dalam film 7 Hati 7 Cinta 7 Wanita, yang mengalami ketidakadilan gender karena figur laki-laki dalam hidup perempuan tersebut.
Tujuan yang ingin dicapai oleh peneliti adalah untuk mengetahui bagaimana representasi ketidakdilan gender terhadap perempuan dikonstruksikan melalui film 7 Hati 7 Cinta 7 Wanita.
Peneliti melakukan penelitian dengan menggunakan metode analisis semiotika Roland Barthes. Teori Barthes yang memaknai sebuah tanda bisa ditemukan pada film 7 Hati 7 Cinta 7 Wanita. Pemikiran, sikap, hubungan sosial, gerak, bahasa, dan semua yang terangkum dalam film ini mempunyai makna dalam pengungkapan tema yang disuguhkannya.
Film ini menunjukkan ketidakadilan gender terhadap perempuan dimanifestasikan dalam berbagai bentuk seperti kekerasan fisik, seksual, ekonomi, perampasan kemerdekaan sewenang-wenang, dan psikologis. Patriarkisme dan kapitalisme menjadi latar belakang ideologi yang mendominasi tindak kekerasan. Dalam peristiwa kekerasan dengan pelaku laki-laki terdapat konstruksi gender berdasarkan kultur patriarkis tentang sikap laki-laki yang mendominasi karena perannya sebagai subjek dan sikap perempuan yang terdominasi karena perannya sebagai objek. Berbagai kisah perempuan terangkum menjadi satu dengan kisah menonjol seputar kekerasan perempuan. Namun sekali lagi film tema ketidakadilan gender terhadap perempuan Indonesia hanya menjadi sebuah penggambaran tanpa solusi pada permasalahan perempuan.
Tidak tersedia versi lain