CD-ROM
Representasi human trafficking dalam film Jamila dan Sang Presiden (studi analisis semiotika Roland Barthes) (CD)
ABSTRAKSI
FRISTIYA YUDIYATI dengan NPK: 05330149, tercatat sebagai mahasiswa Universitas Merdeka Malang Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Jurusan Ilmu Komunikasi, Angkatan 2005, Dengan Dosen Pembimbing I: Priyo Dari Mulyo dan Dosen Pembimbing II: Saudah, mengambil judul “ Representasi Human Trafficking Dalam Film Jamila Dan Sang Presiden (Studi Analisis Semiotika Roland Barthes).
Perfilman pada saat ini di Indonesia bisa diartikan sudah bangkit dari tidur dan keterpurukan yang panjang karena belum stabilnya perekonomian Indonesia. M eski demikian film bisa diartikan sebagai suatu media yang digunakan untuk memberikan informasi kepada khalayak luas sehingga masyarakat menjadi tahu dan tertarik, dalam film ini diharapkan dapat memberikan pesan moril dan filosofi kehidupan baik pemahama tentang bagaimana human trafficking yang digambarkan pada film Jamila dan Sang Presiden.
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perilaku (adegan) human trafficking melalui gambar maupun tanda-tanda pada film Jamila dan Sang Presiden dimana juga dapat memberikan kegunaan bagi peneliti dan yang lainnya sebagai tambahan masukan dibidang film menurut kajian analisa semiotika.
Dalam melakukan penelitian ini, peneliti menyusun prosedur penelitian ini dapat berjalan dengan baik dan peneliti tidak mengalami kesulitan pada proses penelitiannya. Antara lain : 1. Melakukan dokumentasi terhadap film Jamila dan Sang Presiden 2. Mempelajari, mencermati dan mengamati pesan yang terkandung dalam film Jamila dan Sang Presiden 3. Menganalisa bentuk human trafficking yang merupakan sebuah pesan pada film Jamila dan Sang Presiden. tahap terakhir dimana penulis mulai menganalisis makna dari data yang didapat dengan menggunakan Semiotika Roland Barthes.
Film Jamila dan Sang Presiden yang dijadikan sebagai obyek penelitian, dalam film ini ditampilkan realitas human Trafficking yang tergambar pada kehidupan pemeran utamanya (Jamila) sebagai gambaran kehidupan sebagian masyarakat yang mejadi korban human trafficking karna faktor lingkungan ekononi dan pendidikan yang minim. Begitu juga dengan realitas masyarakat saat ini yang kurang menyadari hak asasi manusia itu sendiri sehingga mengenyampingkan moral hanya untuk kepentingan sesaat. Film Jamila dan Sang Presiden sendiri ditujukan kepada masyarakat terlebih kepada pemerintahan yang dinilai kurang tanggap dalam masalah kejelasan hukum human trafficking.
Tidak tersedia versi lain