CD-ROM
Persepsi aktifis perempuan terhadap penggambaran perempuan dalam sinetron komedi "Suami-suami takut istri" (CD)
ABSTRAKSI
Kartika Chrisnawati, Persepsi Aktivis Terhadap Penggambaran Perempuan Dalam Sinetron Komedi “Suami-Suami Takut Istri”. Pembimbing I Drs. Priyo Dari Mulyo, M.Si , Pembimbing II Sri Widayati,S. Pd, M.Si.
Gerakan emansipasi telah berjasa besar dalam menghantarkan kaum perempuan Indonesia menuju mimbar kehormatan dan gerbang kebebasan, realita yang ada di tengah-tengah kehidupan modern bahwa perempuan tidak lagi dipandang sebelah mata, namun yang terpenting ialah perempuan ingin dihargai dan dihormati. Dalam perkembangannya, emansipasi tentu tidak berjalan mulus, banyak batu-batu terjal yang harus dilewati perempuan Indonesia. Perempuan mempumyai hak sama dalam pemikiran, gagasan, ide-ide yang cemerlang. Dimana media massa, memiliki peran yang penting dalam pencitraan perempuan. Dalam sinetron komedi “Suami-Suami Takut Istri” para istri selalu berusaha di atas laki-laki, namun berbeda dengan fakta yang terjadi masyarakat, bahwa aktifis selalu berjuang untuk kesetaraan gender, sementara tayangan “Suami-Suami Takut Istri” menggambarkan dominasi perempuan dengan berbagai versi.
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui persepsi tentang penggambaran perempuan dari para aktivis di dalam sinetron komedi Suami-Suami Takut Istri.
Hasil penelitian ini menunjukan Bila seseorang berasal dari sebuah keluarga yang berlatar belakang agama, pendidikan, sosial. Akan berbeda cara mereka dengan yang berlatar belakang ekonomi, sosial politik. Mereka yang berlatar belakang agama, pendidikan dan sosial akan menbentuk tatanan keluarga yang mendasari adanya saling menghormati, saling sayang, saling menerima, agama yang menjadi keyakinan pun, akan dipegangnya dengan kuat. Sedikit berbeda dengan yang berlatar belakang ekonomi sosial dan politik, keluarga yang mereka bina akan lebih mendasar akan pembentukan peran yang lebih berkembang dari sebelumnya, harus dapat menggali potensi yang dimiliki. Dengan begitu didikan nya akan lebih berkembang. Perempuan-perempuan dengan latar belakang yang berbede-bedapun, sangat mempengaruhi cara mereka dalam menyikapi apapun yang terjadi di depan mereka. Karena perbedaan cara pandang ini pun yang akhirnya dapat mempengaruhi persepsi mereka dalam menyikapi akan sesuatu. Mereka yang berlatar belakang aktivis Agama, Pendidikan, Sosial dan Pemberdayaan Masyarakat, Politik yang mempunyai persepsi bahwa perempuan harus dapat menjadi “patner” dalam rumah tangga, mempunyai iman yang kuat, berperan sebagai mana kodratnya sebagai perempuan, haruslah taat dan patuh pada suami, seorang suami haruslah menjadi pembimbing yang bijaksana dalam rumah tangga dan keluarga, suami istri ialah pendamping satu dengan yang lain. Sedangkan dari sudut pandang Aktivis Perempuan dan Pemberdayaan Perempuan dan Pemberdayan Masyarakat yang mempunyai persepsi bahwa perempuan atau istri harus bisa dapat mengaktualisasikan diri (menghasilkan), dan berkiprah di ruang public.
Tidak tersedia versi lain