CD-ROM
Budaya komunikasi narsistik di kalangan mahasiswa (srudi etnografi pada komunitas mahasiswa di Malang) (CD)
ABSTRAKSI
Esti Maryanti Ipaenim, Budaya Komunikasi Narsistik Di Kalangan Mahasiswa (Studi Etnografi Pada Komunitas Mahasiswa Di Kota Malang). Skripsi dengan 5 Bab, 108 halaman, bibliografi 11 buku, 2 karya ilmiah dan 10 artikel internet. Pembimbing 1 Priyo Dari Molyo, Pembimbing II Ana Mariani, Malang, Maret 2009. Jurusan Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Merdeka Malang.
Berbagai fenomena budaya popular menjangkiti masyarakat tak terkecuali mahasiswa. Salah satu fenomena tersebut adalah budaya mengkonstruk diri dalam berbagai image dan menampilkannya secara luas. Mahasiswa dalam berbagai aktivitasnya terlihat dalam aktivitas menonjolkan dirinya lewat potret-potret diri. Budaya yang kemudian terkenal dengan istilah narsis. Menjadi menarik untuk mengetahui bagaimana budaya narsistik itu dikomunikasikan oleh mahasiswa sebagai praktik budaya mereka.
Komunikasi merupakan praktik budaya karenanya narsistik dapat dipahami sebagai praktik mahasiswa untuk mengkomunikasikan dirinya. Dalam praktik ini mahasiswa menggunakan bermacam teknologi komunikasi sebagai perkakas penting dalam percobaan menciptakan sebuah identitas narsistik. Praktik yang demikian dilakukan oleh mahasiswa karena mereka merupakan bagian dari kontruk sosial anak muda. Hal tersebut dipahami cultural studies dengan kajian Politik identitas oleh Stuart Hall dan juga bisa dipandang sebagai sebuah upaya mempertentangkan identitas mereka. Ideologi narsistik dipertentangkan dalam berbagai ruang mahasiswa. Pandangan interaksionisme simbolik menganggap perilaku yang demikian sebagai pembuktian akan keunikan mahasiswa sebagai individu yang berinteraksi dengan simbol-simbol kenarsisan mereka.
Metode etnografi digunakan melalui proses wawancara etnografis, pengamatan berperan serta dan dokumentasi. Teknik snowball digunakan karena alasan ketidaktahuan akan informan mana yang masuk dalam kategori narsis. Komunitas yang diteliti adalah komunitas mahasiswa Universitas Brawijaya Malang, Universitas Merdeka Malang, dan Universitas Muhammadiyah Malang.
Dari hasil penelitian ditemukan bahwa dalam mengkomunikasikan dirinya mahasiswa tak terlepas dari pandangan subjektif akan dirinya. Mahasiswa menganggap diri mereka unik dan memiliki seperangkat kelebihan yang membuat mereka berbeda. Bentuk-bentuk politik identitas narsistik mahasiswa diantaranya adalah pengakuan pribadi mereka, melalui penampilan, fashion dan citra yang mereka konstruksikan, pemanfaatan waktu luang mereka untuk nongkrong dan ngeceng. Mahasiswa juga mengkomunikasikan kenarsisannya dengan berpose kapanpun dan dimanapun, memperindah tampilan foto mereka dan memamerkannya dalam ruang-ruang narsis mereka.
Pada akhirnya politik identitas narsistik tak sepenuhnya mempertegas mahasiswa sebagai kaum yang independen dan memperkuat segala atribut yang mereka sandang. Sebab praktik ini memiliki kecenderungan diotorisasi oleh berbagai pihak di mana seorang mahasiswa terafiliasi. Namun praktik ini harus dihargai sebagai gejala postmodernis yang sedang menggeliat dalam tubuh mahasiswa paha khususnya dan kota Malang pada umumnya
Tidak tersedia versi lain