CD-ROM
Pengaruh inflasi terhadap penyerapan tenaga kerja pada industri kecil sebelum dan sesudah krisis ekonomi di kabupaten Sumenep Madura (CD)
Pembangunan nasional merupakan usaha peningkatan kualitas masyarakat Indonesia yang dilakukan secara berkelanjutan, berdasarkan kemampuan nasional dengan memanfaatkan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi serta memperhatikan tantangan perkembangan global. Dalam kondisi pasar kerja, banyak tenaga kerja yang memasuki lapangan kerja di sektor informal. Menurut data yang dipublikasikan Departemen Tenaga Kerja Terdapat 36 juta angkatan kerja yang menganggur pada tahun 1998, dalam angka ini termasuk mereka yang bekerja secara penuh (under employment), atau mereka yang bekerja kurang dari 35 jam per minggu. Angka pengangguran tersebut terus bertambah selama daya serap pasar kerja masih terbatas. Hal itu terjadi setiap tahun angkatan kerja baru yang masuk ke bursa kerja terus bertambah. Tambahan angkatan kerja baru setiap tahunnya mencapai 3 juta pekerja per tahun, dan angkatan kerja baru tersebut tidak semuanya diserap oleh pasar tenaga kerja (BPS, 2002:30).
Pada tahun 1997 krisis ekonomi melanda Indonesia, hingga negara kita mengalami inflasi yang cukup berat. Sektor industri yang semakin penting peranannya dalam perekonomian ini, maka sering pula peningkatan tersebut dibarengi dengan kenaikan tingkat inflasi, yang dapat memberikan tekanan pada sektor industri, sehingga dapat menekan perkembangan sektor industri itu sendiri. Ini berakibat bahwa dengan tekanan inflasi tersebut akan memberikan dampak terhadap pengurangan penyerapan tenaga kerja. Hal ini menyebabkan banyak terjadinya pemutusan hubungan kerja (PHK) serta tidak dapat menyerap tenaga kerja yang masih menganggur, baik berupa tenaga kerja terbuka maupun tenaga kerja terselubung.
Disisi lain, krisis ekonomi yang menyebabkan terjadinya peningkatan inflasi juga berdampak terhadap jumlah tenaga kerja pada industri kecil yang ada di kabupaten Sumenep. Menurut data Dinas Perindustrian dan Perdagangan di kabupaten Sumenep, pada tahun 1998 jumlah tenaga kerja pada industri kecil mengalami penurunan yang cukup drastis yaitu sebesar 48%, sedangkan tingkat inflasi sebesar 91,87% (BPS, 2004:139). Dimana sektor industri kecil di kabupaten Sumenep merupakan industri yang mampu menyerap tenaga kerja dengan jumlah relatif besar dan membutuhkan biaya modal yang sedikit, dibandingkan dengan industri menengah ke atas yang membutuhkan modal cukup besar dengan jumlah tenaga kerja yang cukup sedikit. Sehingga disini didapat suatu permasalahan yaitu “Pengaruh Inflasi Terhadap Penyerapan Tenaga Kerja pada Industri Kecil Sebelum dan Sesudah Krisis Ekonomi di Kabupaten Sumenep Madura”.
Perkembangan penyerapan tenaga kerja pada industri kecil sebelum krisis ekonomi tahun 1991-1997 dan sesudah krisis ekonomi tahun 1998-2004 di kabupaten Sumenep mengalami peningkatan dan penurunan. Begitu juga dengan perkembangan inflasi sebelum krisis ekonomi tahun 1991-1997 dan sesudah krisis ekonomi tahun 1998-2004 di kabupaten Sumenep juga mengalami peningkatan dan penurunan. Inflasi yang terjadi di kabupaten Sumenep sebelum krisis ekonomi tahun 1991-1997 tidak berpengaruh nyata terhadap penyerapan tenaga kerja pada industri kecil di kabupaten Sumenep dengan melihat nilai perbandingan t hitung sebesar -0,525 dan t tabel sebesar -2,968 jadi t hitung < t tabel atau dengan perbandingan probabilitas sebesar 0,622 lebih besar dari α sebesar 0,05 sehingga Ho diterima dan Ha ditolak. Jika dilihat dari koefisien regresi variabel inflasi (X) sebesar -58,909 (b) menunjukkan besarnya pengaruh variabel inflasi (X) terhadap variabel penyerapan tenaga kerja pada industri kecil (Y). Koefisien regresi bertanda negatif menunjukkan inflasi berpengaruh tidak searah terhadap penyerapan tenaga kerja pada industri kecil, yang berarti setiap kenaikan sebesar 1% variabel inflasi (X) akan menyebabkan penurunan penyerapan tenaga kerja pada industri kecil (Y) sebesar 59 orang. Sebaliknya, penurunan variabel inflasi (X) sebesar 1% akan menyebabkan kenaikan penyerapan tenaga kerja pada industri kecil (Y) sebesar 59 orang.
Berbeda dengan inflasi yang terjadi di kabupaten Sumenep sesudah krisis ekonomi tahun 1998-2004 berpengaruh nyata terhadap penyerapan tenaga kerja pada industri kecil di kabupaten Sumenep, hal ini dilihat dari nilai perbandingan t hitung sebesar -6,485 dan t tabel sebesar -2,968 jadi t hitung < t tabel atau dengan perbandingan probabilitas sebesar 0,001 lebih besar dari α sebesar 0,05 sehingga Ho diterima dan Ha ditolak. Jika dilihat dari koefisien regresi variabel inflasi (X) sebesar -15,708 (b) menunjukkan besarnya pengaruh variabel inflasi (X) terhadap variabel penyerapan tenaga kerja pada industri kecil (Y). Koefisien regresi bertanda negatif menunjukkan inflasi berpengaruh tidak searah terhadap penyerapan tenaga kerja pada industri kecil, yang berarti setiap kenaikan sebesar 1% variabel inflasi (X) akan menyebabkan penurunan penyerapan tenaga kerja pada industri kecil (Y) sebesar 16 orang. Sebaliknya, penurunan variabel inflasi (X) sebesar 1% akan menyebabkan kenaikan penyerapan tenaga kerja pada industri kecil (Y) sebesar 16 orang.
Menurut data dari Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (BAPPEDA) kabupaten Sumenep inflasi yang terjadi di kabupaten Sumenep pasca krisis ekonomi lebih didorong oleh naiknya inflasi yang terjadi pada kelompok bahan makanan, seperti naiknya harga komoditi daging sapi, komoditi harga tomat, sayur dan buah pisang. Disamping itu, kelompok lain juga berpengaruh terhadap naiknya inflasi seperti kelompok sandang dan kelompok transportasi, komunikasi dan jasa keuangan. Naiknya harga emas dan perhiasan merupakan pendorong utama besarnya sumbangan di kelompok sandang, sedangkan pada kelompok transportasi, komunikasi dan jasa keuangan lebih dipengaruhi oleh kenaikan tarif telepon. Sehingga hal tersebut menyebabkan terjadinya perubahan inflasi, yaitu tingkat pengeluaran agregat yang melebihi kemampuan perusahaan untuk menghasilkan barang dan jasa.
Tidak tersedia versi lain