CD-ROM
Konstruksi realitas pasca perdamaian NKRI-GAM : analisis framing di kompas dan Jawa Pos edisi 16 Agustus 2005-29 Agustus 2005 (CD)
Konstruksi realitas yang dibentuk oleh media dipengaruhi oleh kehidupan sistem politik dimana media menjadi salah satu sistemnya. Proses konstruksi realitas, dalam upayanya mencerminkan kembali sebuah peristiwa (mengkonstruksikan ulang) keadaan atau benda tak terkecuali mengenai hal-hal yang berkaitan dengan politik adalah usaha mengkonstruksi realitas atas kejadian yang dilaporkan.Jadi keterlibatan media dalam mengkonstruksikan peristiwa atau fakta Pasca Perdamaian NKRI-GAM, yang telah disepakati (khususnya media Kompas dan Jawa Pos) sesuai dengan kode etik jurnalistik dan seimbang. Bukan sekedar melihat konflik namun bagaimana media mendukung kesepakatan Perdamaian NKRI-GAM dengan melibatkan warga Aceh, GAM, pemerintah RI dalam meredakan konflik atau isu yang berkembang, dan dapat memperkeruh keadaan pasca Perdamaian Pemerintah NKRI-GAM.
Adapun tujuan yang hendak dicapai yaitu untuk mengetahui bagaimana Kompas dan Jawa Pos membingkai peristiwa Pasca Perdamaian NKRI-GAM (Edisi 16 Agustus 2005-29 Agustus 2005) serta penekanan isu yang dilakukan oleh kedua media tersebut berkaitan dengan pemberitaan Pasca Perdamaian NKRI-GAM.
Hasil dari analisis Framing berita pada koran Jawa Pos dan Kompas tentang pasca perjanjian damai antara GAM dan RI yang terjadi pada 16 Agustus 2005. Skematis pemberitaan pada Jawa Pos mewawancarai Ketua DPR, Panglima GAM tentang perbedaan pendapat mengenai bendera dan lagu yang akan dikumandangkan di Aceh. Sedangkan Kompas menekankan pada wawancara dengan anggota DPR dan anggota GAM tentang amnesti yang diberikan. Skrip pada koran Jawa Pos membingkai pemberitaan tentang perdamaian antara NKRI dengan GAM, Jawa Pos lebih menekankan kejadian pada saat terjadinya tahap perjanjian perdamaian, bagaimana terjadi dan berlangsungnya perjanjian serta apa yang melatarbelakangi perjanjian damai tersebut. Juga sejauhmana kepedulian, partisipasi serta dukungan masyarakat Aceh, khususnya GAM dan pemerintah RI dalam mendukung kesepakatan perjanjian damai. Dalam mengkonstruksikan suatu realitas, Jawa Pos kurang berani dan sedikit tertutup dalam mengungkapkan fakta, serta tidak berkesinambungan dalam pemberitaan perjanjian damai NKRI dengan GAM. Sedangkan skrip pembingkaian pada Kompas, dalam mengkonstruksikan suatu realitas lebih mengangkat kejadian setelah terjadinya perjanjian perdamaian, akibat dari perjanjian tersebut. Pemberitaan Penandatanganan Kesepakatan (MOU) Damai lebih ditonjolkan dan lebih dominan adalah opini dibandingkan dengan fakta juga dalam pemberitaan Koran Kompas lebih berani, dan terbuka serta berkesinambungan. Tematik pada Jawa Pos mematuhi isi perjanjian perdamaian, pernarikan TNI, penyerahan senjata. Sedangkan Kompas, menekankan pada apa yang sebaiknya dilakukan setelah adanya perjanjian damai di Aceh.
Dari hasil analisis teks wacana konstruksi terhadap berita-berita tentang perjanjian damai NKRI dengan GAM diketahui pemberitaan Jawa Pos memberitakan masalah GAM yang ingin mempertahankan bendera yang lama, penyerahan senjata oleh GAM, pembebasan tahanan GAM, akan dibuka Pengadilan GAM di Aceh. Sedangkan dalam pemberitaan Kompas mengemukakan penandatanganan kesepakatan damai, pemberian amnesti, nota kesepahaman/ MOU, insiden TNI dengan GAM
Tidak tersedia versi lain