CD-ROM
Persepsi warga pesantren mengenai kiprah perempuan di kancah politik praktis : perbandingan pondok pesantren Salafiyah dan pesantren Modern (CD)
Bebby Aisha Pohan adalah mahasiswa Jurusan Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Merdeka Malang dengan nomor npk 02330044. Judul penelitian adalah Persepsi Warga Pesantren Mengenai Kiprah Perempuan di Kancah Politik Prakis dengan Dosen Pembimbing I adalah Heru Puji Winarso dan Dosen Pembimbing II adalah Sri Widayati.
Lebih dari 50% penduduk Indonesia adalah perempuan, tetapi keterwakilan perempuan di bidang politik masih minim. Hal ini disebabkan adanya stereotipe bahwa peran perempuan hanya di wilayah domestik saja. Stereotype ini diperteguh oleh pendapat para ulama yang mempunyai otoritas keagamaan. Ulama mempunyai tempat yang terhormat dalam kehidupan masyrakat Indonesia yang mayoritas beragama Islam. Posisi ini membuat ulama mampu mempengaruhi dan menggerakkan aksi sosial para pengikutnya (hubungan patron-clien), salah satunya mengenai fenomena kiprah perempuan di bidang politik praktis. Dalam mentransfer ide, pemikiran dan ajarannya, ulama mendirikan lembaga pendidikan Islam yang disebut dengan pondok pesantren. Seiring dengan bergantinya waktu pondok pesantren yang dulu merupakan tempat yang dianggap sakral oleh masyrakat, akhir-akhir ini imagenya menjadi buruk. Hal ini terkait dengan aksi-aksi kekerasan dari beberapa alumni pondok pesantren, sehingga masyarakat beranggapan bahwa pondok pesantren adalah base of violance, terutama Pondok Pesantren Salafiyah yang dianggap otoriter akan melarang perempuan berkiprah di bidang politik praktis (eksekutif, legislatif, yudikatif, dan partai politik). Untuk itu perlu diketahui bagaimana persepsi warga pesantren terhadap kiprah perempuan di kancah politik praktis.
Penelitian tentang persepsi warga pondok pesantren terhadap kiprah perempuan di bidang politik menjadi penting untuk dilakukan sebagai wahana untuk mengetahui benarkah stigma negatif yang diberikan masyarakat kepada pondok pesantren terutama Pondok Pesantren Salafiyah. Manfaat penelitian ini bagi pondok pesantren memberikan masukan yang bersifat konstruktif pada ulama dan santri sehingga dapat dijadikan inspirasi untuk melakukan perubahan yang lebih baik demi kemajuan ummat manusia. Bagi masyarakat manfaatnya adalah menambah wacana masyarakat tentang dunia pesantren, sehingga tidak menggeneralisir pondok pesantren akan terjadinya penurunan rasa kemanusiaan dalam hidup bermasyarakat. Sedangkan untuk politikus, memetakan persepsi dapat digunakan untuk menentukan strategi-strategi yang akan ditempuh dalam mempertahankan kekuasaan atau merebut kekuasaan, sehingga dapat melaksanakan program-programnya dalam meningkatkan kesejahteraan rakyat Indonesia tercinta.
Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif eksplanatoris. Lokasi penelitian diadakan di tiga pondok pesantren yang ada di wilayah Malang (Kabupaten Malang dan Kotamadya Malang). Ketiga pondok pesantren itu adalah: 1. Pondok Pesantren Modern Darussalam, Kecamatan Lawang, Kabupaten Malang; 2. Pondok Pesantren Sunan Muria, Kecamatan Kedung Kandang, Kotamadya Malang; 3. Pondok Pesantren Nurul Ulum, Kecamatan Sukun, Kotamadya Malang. Respondennya adalah warga ketiga pondok pesantren yang disebutkan sebelumnya.
Hasil penelitian yang dilakukan ternyata tidak benar jika warga pondok pesantren tidak setuju akan kiprah perempuan di kancah politik praktis, demikian pula dengan Pondok Pesantren Salafiyah. Tidak benar juga jika dalam pendidikan di pondok pesantren, ulama melakukan doktrnisasi kepada santri, pada penelitian ini diperoleh hasil bahwa ada santri yang mempunyai persepsi yang berbeda dengan ulama yang mengajarnya. Jika pondok pesantren melakukan doktrinisasi maka tidak mungkin ada santri mempunyai persepsi yang berbeda dengan ulama yang mengajar.
Tidak tersedia versi lain