CD-ROM
Konstruksi realitas kekerasan dalam film novel tanpa huruf "R" : ditinjau dari analisis wacana (CD)
Film muncul pada akhir abad ke-19, tetapi tidak terlalu baru dari segi isi dan fungsi yang di sajikan oleh sebuah tanyangan film. Film merupakan sarana baru yang digunakan untuk menyebarkan hiburan dengan menyajikan cerita, peristiwa, musik, drama, lawak serta sajian teknis lainnya dari pada masyarakat umum. Film di harapkan memberi feed back atau umpan balik terhadap kesan-kesan yang dikandung dalam sebuah film. Karakteristik film sebagai usaha bisnis pertunjukan (show Business) baru dan pasar yang berkembang belumlah mencakup segenap permasalahan yang ada didunia perfilman.
Film merupakan sarana hiburan umum yang memperlihatkan suatu fenomena tentang kebebasan mayarakat. Dalam fenomena ini terdapat keinginan untuk memanipulasi sebuah film. Selain itu film juga bisa berfungsi sebagai alat penyebaran pendidkan karena film dapat memiliki kemampuan untuk menarik perhatian orang dan sebagian lagi di dasari alasan bahwa film memiliki kemampuan dalam mengantarkan pesan secara unik. Dalam film terdapat aneka pengaruh yang menyatu dan mendorong kecenderungan munculnya sejarah baru dalam dunia perfilman sehingga dalam film cenderung memanipulasi cerita.
Pengaruh film sangat kuat sebagai alat produksi hiburan. Film bisa digunakan sebagai sarana pendidikan yang memberikan wawasan dan pengalaman yang sangat berguna bagi perkembangan jiwa dan cara berfikir khalayak. Fim yang berkualitas merupakan sarana edukatif bagi masyarakat.
Salah satu film yang membuat penulis terkesan adalah film Novel tanpa huruf “R” ini merupakan hasil kerja keras dari Aria Kusumadewa yang mempunyai tema tentang kekerasan. Kekerasan dilukiskan tidak manusiawi, dimana pembunuhan, pembantaian, pemerkosaan merupakan suatu tindak kekerasan yang sering dijumpai dalam kehidupan sehari-hari. Film Novel Tanpa Huruf “R” adalah film yang bertitk tolak atau merujuk dari situasi dewasa ini dimana kekerasan sudah menjadi hal yang biasa dalam sisi kehidupan bermasyarakat, sudah sangat diminati dan menjadi komoditas pasar.
Fenomena seperti ini menunjukkan betapa semakin hari kekerasan sudah menjadi seperti hiburan.
Aria Kusumadewa menghadirkannya kedalam layar adalah untuk menciptakan karya seni dan pemikiran serius diantara pemirsa dan latar belakang kekerasan, tetapi pemilik Tit’s Production ini ingin menyampaikan pesan inti film itu, yakni bagaimanapun tindak kekerasan merupakan tindakan yang tidak dapat dibenarkan baik oleh nilai-nilai budaya yag ada, ajaran agama yang dianut masyarakat, maupun oleh norma-norma hukum yang selama ini telah berlaku dimasyarakat
Tidak tersedia versi lain